Sabtu, 17 September 2016

Sejarah Dan Kisah Gua 7 Di Aceh



Pada suatu masa di tanah Aceh, tersebutlah tujuh pemuda yang berniat menunaikan ibadah haji ke Makkah. Tapi mereka sama sekali tak punya uang untuk mengongkosi perjalanan itu. Ketujuh pemuda itu pun kemudian berembuk.
“Wahai saudaraku, apa kalian punya ide bagaimana caranya agar kita bisa sampai ke Makkah?” tanya salah satu dari pemuda itu kepada rekan-rekannya. Lama tak ada yang menjawab. Semua diam seribu bahasa. Dan, pada akhirnya pemuda tadipun mengusulkan, “Bagaimana kalau kita pergi ke bandar, tempat berlabuhnya kapal yang akan mengangkut jamaah haji.”
“Apa yang akan kita lakukan di sana, wahai saudaraku? Kita tidak punya uang.” Seorang pemuda lainnya menjawab. Suasana kembali hening. Padahal mereka sudah sangat rindu akan Tuhannya. Beribadah langsung di depan Ka’bah. Di Makkah Al-Mukarramah. Dalam keheningan itu, seorang pemuda lain memberi ide. “Bagaimana kalau kita meminta pekerjaan kepada pemilik kapal. Sebagai gantinya kita tidak perlu dibayar, asal bisa ikut ke Makkah.”  Ide itupun disambut gembira oleh keenam pemuda lainnya.

Beras dan lauk pauk kemudian disiapkan sebagai bekal perjalanan dari kampung halaman mereka di Timur Pedir ke bandar di Kutaradja. Perjalanan kaki yang membutuhkan waktu lima hari lamanya. Ketujuh pemuda itu bahkan tak punya uang untuk membeli kuda. Bukan tidak berusaha, mereka telah mencoba mencari tumpangan kepada calon jamaah haji lainnya yang pergi ke bandar dengan kereta kuda. Tapi tak ada yang bersedia memberi tumpangan.
Akhirnya pergilah mereka dengan segala kemungkinan risiko yang telah siap dihadapi. Apalagi untuk sampai ke bandar harus menempuh perjalanan naik dan turun gunung. Melewati bukit terjal dan hutan lebat untuk memperpendek jarak tempuh. Bukan tak mungkin binatang buas akan menerkam ketujuh pemuda itu. Tapi sejak niat menunaikan ibadah haji muncul, jiwa dan raga sudah diikhlaskan kembali kepada Tuhannya. Mereka juga rela bekerja di kapal tanpa dibayar, walau perjalanan ke Mekkah harus ditempuh dalam waktu berbulan-bulan. Siang dan malam. Dengan ombak yang kadang besar dan arah mata angin yang tidak menentu.
Puncak ibadah haji akan dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah setiap tahun Hijriah. Menurut kabar yang mereka dengar, kapal yang menuju Makkah akan berlayar pada awal bulan Sya’ban. “Mari kita berangkat wahai saudara-saudaraku!” Saat itu minggu ke tiga di bulan Rajab. Seorang pemuda ditunjuk sebagai pemimpin. Mereka mengenakan pakaian serba putih. Bekal yang telah dibungkus menjadi tujuh bagian diletakkan di atas bahu masing-masing dengan penyangga tongkat kayu.
Mereka lalu berjalan beriringan. Hari berganti hari. Matahari telah lima kali terbenam. Tapi ketujuh pemuda itu belum juga sampai ke bandar. Sementara bekal yang mereka bawa semakin menipis. Hanya tersisa lauk tanpa beras. Sementara tenaga mulai melemah. Seorang di antara pemuda itu malah jatuh sakit. Badannya menggigil dan panas. Tapi satu hal yang tidak pernah dilupakan ketujuh pemuda itu; menunaikan shalat lima waktu tepat waktu, dengan petunjuk bayangan tubuh di siang hari. Merekapun bersyukur tidak ada binatang buas yang mengganggu selama perjalanan.
“Wahai saudaraku, matahari telah lima kali terbenam dan enam kali terbit, tapi kita belum juga sampai ke bandar. Aku takut kita tersesat di tengah hutan belantara ini.” Pernyataan pemuda tadi menyadarkan rekan-rekannya yang lain. Rupanya pemuda tadi mencoret satu garis dengan kapur tiap kali matahari terbenam dan terbit di tongkat kayunya. Ia sadar saat menghitung jumlah garis itu.
Ketujuh pemuda itu akhirnya kembali berembuk dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. “Lihatlah wahai saudaraku, di sana sepertinya ada permukiman penduduk. Lihatlah asap-asap itu!”
“Iya, wahai saudaraku. Sepertinya kita bisa mencari bantuan ke sana dan meminta sepiring nasi untuk rekan kita yang sakit,” ujar seorang pemuda.
“Tapi siapa yang akan ke sana? Sedangkan kita harus berbagi tugas untuk mencari sumber mata air, kayu bakar, dan buah-buahan dari pohon hutan yang bisa dimakan. Belum lagi menjaga rekan kita yang sakit,” sahut pemuda lainnya. “Lagi pula perjalanan ke sumber asap itu harus menuruni lereng bukit yang terjal.”
“Bagaimana kalau saya seorang diri yang ke sana.” Pemuda yang ditunjuk sebagai pemimpin menawarkan diri. Usul itu akhirnya disepakati juga. Seorang di antara mereka ditugaskan menjaga rekannya yang sakit. Dua orang mencari kayu bakar dan bekal dari pohon hutan yang bisa dimakan. Dua lainnya pergi mencari sumber mata air.
Dan, berangkatlah kelima pemuda itu untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Seorang pemuda turun ke kampung mengikuti arah asap dengan pakaian lusuh. Bukit terjal dan tubuh yang mulai tergores bebatuan runcing hingga mengeluarkan darah bukanlah halangan. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana ia bisa mendapatkan sepiring nasi, agar rekannya cepat sembuh dan bisa melanjutkan perjalanan ke bandar.
“Syukur kami kepada-Mu, Tuhan.” Hanya kalimat itu yang terucap dibibirnya saat ia melihat permukiman penduduk. Ada banyak orang berkumpul di sebuah rumah. “Saya harus ke sana. Sepertinya sedang ada hajatan.” Bisik pemuda itu di dalam hati.
“Maaf, wahai ibu-ibu ahli surga. Apakah di sana sedang ada hajatan?” tanyanya, menunduk. Kala itu ia berpas-pasan dengan sekelompok ibu-ibu.
“Di rumah besar milik bangsawan itu?” Seorang ibu berdandan tusuk ronde balik bertanya, sinis.
“Iya.”
“Apakah engkau yakin mau ke sana?” Seorang ibu lainnya kembali bertanya dengan mata yang menyapu bersih penampilan pemuda itu, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Mohon pamit, ibu-ibu.” Pemuda tadi akhirnya bergegas pergi. Menghindari prasangka yang mungkin timbul.
Sampailah ia ke rumah yang dituju. Disapanya orang-orang yang hadir pada acara hajatan itu dengan sopan. “Bolehkah saya meminta sepiring nasi? Teman kami sedang sakit di tengah hutan sana.” Pemuda itu memperhatikan ke sekelilingnya. Tamu-tamu hadir dengan perhiasan emas di tubuhnya. Mangkuk, garpu, dan sendokpun semuanya berlapis emas.
Dilihatnya orang-orang memperhatikan ia sambil menutup hidung. Tak lama berselang, seorang pemilik rumah tiba-tiba keluar. Tapi bukannya memberi makanan, malah mengusirnya. “Pergilah! Acara hajatan tidak jadi digelar. Engkau telah mengacaukannya. Tak ada nasi untuk orang berpenampilan lusuh sepertimu,” bentak pemilik rumah. “Kamu tau kalau hanya dari golongan para bangsawan yang boleh menginjakkan kakinya di tanah Laweung Pedir ini?”
Akhirnya pulanglah pemuda itu dengan tangan hampa. Teringat rekannya yang sakit dan sangat membutuhkan makanan. Ia kembali ke gunung dengan perasaan tidak menentu dan wajah lesu. Saat ia sampai, keempat pemuda lainnya telah kembali dan berhasil melaksanakan tugasnya masing-masing. Hanya ia yang tidak berhasil.
“Kenapa wajah engkau lesu, wahai saudaraku?” tanya pemuda yang sedang sakit.
“Maaf, wahai saudaraku, saya tidak berhasil melaksanakan tugas ini dengan baik.”
“Janganlah engkau bersedih, wahai saudaraku. Dibalik halangan dan musibah yang kita hadapi, mungkin Tuhan telah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk kita dan hamba-Nya yang lain.”
Siang akhirnya berganti malam. Tidurlah ketujuh pemuda itu dengan alas seadanya. Hingga bulan sabit tepat di atas pemuda yang tadi turun ke kampung, ia belum juga bisa tidur. Hanya memejamkan mata seadanya. Sebagai pemimpin, ia merasa dirinya telah gagal. Ia lalu bangkit dan menunaikan shalat Tahajjud. Memohon pertolongan kepada Tuhannya.

“Wahai saudaraku, turunlah kembali ke kampung Laweung Pedir. Sekiranya kalian mendapati rumah-rumah di sana telah berubah menjadi gua-gua dengan batu-batu yang berbentuk nasi kulah, ranjang, pelaminan dan berbagai macam rupa lainnya, masuklah ke gua itu. Pilihlah tujuh gua untuk masing-masing kalian. Beribadah dan bermunajatlah kepada Tuhanmu. Jika kalian ikhlas, percayalah, Tuhanmu tidak pernah tidur dan kalian akan ditunjukkan jalan ke Makkah.” Seorang Aulia tiba-tiba masuk ke dalam mimpi pemuda yang tadi bertahajjud kepada Tuhannya.
“Tapi sebelum itu, berdakwalah di jalan Tuhanmu. Janganlah kalian membiarkan orang-orang dalam kesesatan.”
Setiap kali Aulia itu mengucapkan kata-katanya, di dalam tidurnya di atas sajadah cinta kepada Tuhannya, pemuda tadi merasakan kalau bumi sedang bergetar hebat dan dentuman keras menggelegar di mana-mana.

Matahari pagi baru saja menyingsing. Ibadah dan puja puji kepada Tuhan usai sudah ditunaikan. Pemuda yang semalam bermimpi bertemu Aulia Tuhannya berbalik arah. Duduk melingkar di antara enam pemuda lainnya. Ia lalu menceritakan mimpi itu kepada saudara-saudaranya. Dengan bibir yang bergetar, bulu kuduk yang berdiri, dan hati penuh keyakinan akan kekuasaan Tuhannya.
“Kami yakin itu adalah petunjuk dari-Nya,” ujar seorang pemuda, begitu ia selesai mendengar ceritanya.
“Iya, saya juga yakin,” sahut pemuda lainnya.
Akhirnya bersepakatlah pemuda itu untuk turun ke kampung. Apalagi seorang rekan mereka yang tadinya sakit telah kembali sehat. Betapa terkejutnya ketujuh pemuda itu saat mendapati permukiman penduduk yang tadinya berdiri rumah-rumah besar telah berubah menjadi lebih dari 30 gua.
“Kemana gerangan penduduk kampung ini, wahai saudaraku?” tanya seorang dari mereka.
“Mari kita lihat ke sekeliling!” ajak seorang pemuda lainnya.
Maka, pergilah ketujuh pemuda itu menyusuri setiap sudut kampung Laweung. Hingga akhirnya mereka menemukan penduduk dari golongan anak-anak di salah satu gua yang dilindungi oleh batu menggelantung. Batu anti gravitasi yang tanpa penyangga. Anak-anak tersebut lalu dituntun keluar gua. Tidak ada di antara mereka yang tau apa yang terjadi. Anak-anak itu hanya ingat, malam sebelumnya mereka tidur di rumah masing-masing, dan saat terbangun sudah berada di dalam gua tersebut.  
Bersama anak-anak, ketujuh pemuda itu terus berjalan. Menyusuri setiap sisi gua hingga lereng bukit. Mereka akhirnya menemukan juga penduduk kampung dari golongan laki-laki dan perempuan dewasa. Semuanya dalam keadaan menggigil dan ketakutan. Berselimutkan dedaunan-dedaunan pohon hutan.
Mendekatlah ketujuh pemuda itu ke arah kelompok laki-laki dewasa. Anak-anak hanya termangu di tempatnya berdiri. Penduduk kampung lalu bercerita tentang apa yang terjadi semalam. Bumi yang berguncang hebat, malam yang gelap gulita, dan mereka yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
“Maha suci Tuhan yang telah menjaga kita semua dan anak-anak yang masih suci ini.” Ketujuh pemuda tadi tiada henti-hentinya memuja Sang Pencipta.
Secara beiringan, mereka kemudian beranjak dari lereng bukit. Betapa terkejutnya penduduk kampung saat melihat rumah mereka telah berubah menjadi gua-gua yang terukir indah asma Tuhannya.  
Seketika, puja puji kepada Tuhan terdengar agung. “Maafkan kami wahai kekasih Tuhan dan pewaris Nabi!” ujar seorang di antara warga kampung. “Maafkan atas perilaku kasar dan tidak bersahabat dari kami.” 
“Mohon ampunlah kepada Tuhan. Kami sudah memaafkan kalian semua.”

Hari-hari berikutnya, tinggallah ketujuh pemuda itu di kampung Laweung Pedir. Berdakwah dan mengajari penduduk kampung dari golongan anak-anak hingga orang dewasa, membaca dan memahami firman-firman Tuhannya. Mencerna sabda Nabi mereka, agar tau apa-apa yang diperintahkan Tuhan dan apa-apa yang dilarang.
Matahari pun terus berputar pada porosnya. Terhitung 120 kali terbit dan terbenam sudah. Melewati Sya’ban, Ramadhan, hari kemenangan di bulan Syawal, hingga Dzulkaidah. Kini tibalah bulan Dzulhijjah. Bulan kerinduan. Berpamitlah ketujuh pemuda itu kepada penduduk kampung. Pergi beribadah dan bermunajat kepada Tuhan mereka di dalam gua. Menemukan jalan ke Makkah.
Shalat Istikharah pun ditunaikan. Setelah itu mereka memilih sendiri gua yang akan ditempati. Tanpa harus berembuk. Tanpa saling berebut. Tuhanlah yang telah mencondongkan hati mereka. Masing-masing membawa tongkat kayu yang ditancapkan di tanah sebagai petunjuk datangnya waktu shalat. Merujuk pada bayangan sinar matahari ciptaan Tuhannya. Sinar yang tembus melalui celah-celah dinding gua.
Mereka beribadah dan bermunajat kepada Tuhannya dengan penuh keikhlasan. Hingga di hari ketujuh pemuda itu berada di dalam gua, terdengarlah gema, “Labbaik allahhumma labbaik.” Membangunkan penduduk kampung yang tengah terlelap dalam tidur. Bulan terang, bintang yang berkelap-kelip, memberi cahaya terang untuk ikut melihat apa yang sesungguhnya terjadi. Penduduk kampung lalu bersepakat melihat ke gua dalam tujuh bagian. Sambil memuja Tuhannya, mereka terus berjalan. Gema “Labbaik allahhumma labbaik” kian terdengar jelas. Tapi, betapa terkejutnya penduduk kampung, satupun di antara mereka tidak ada yang bisa melihat ketujuh pemuda itu. Hanya tongkat kayu yang masih tertancap di tempatnya.        

Alkisah, tersiarlah kabar ke seantero tanah Aceh tentang tujuh pemuda yang pergi ke Makkah setelah beribadah dan bermunajat kepada Tuhannya di dalam gua di Laweung Pedir. Maka, berbondong-bondonglah di antara penduduk tanah Aceh lainnya untuk meniru hal serupa. Tapi, bukannya mendapat perlindungan dari Tuhannya untuk sampai ke Makkah, mereka malah keluar dari gua yang mereka masuki dengan berbagai macam kondisi dan rupa. Ada yang seluruh tubuhnya kemerah-merahan. Ada juga yang muka dan matanya lembam. Tidak ada yang berhasil.
Menunggulah para penduduk di depan gua yang tujuh. Berharap bisa menemui ketujuh pemuda itu seandainya kelak pulang. Tapi, hari berganti hari. Malam berubah siang. Siang kembali menjadi malam. Yang ditunggu tak jua kembali.
Di suatu malam, ketujuh pemuda itu lalu datang melalui mimpi seorang penduduk. Berpesanlah mereka, “Wahai hamba-hamba yang dikasih Tuhan, tidak perlu kalian menunggu kami kembali. Jangan pula kalian meniru-niru suatu pekerjaan yang mana kalian tidak punya ilmu untuk itu. Menuntutlah kalian semua di jalan Tuhanmu, agar tidak tersesat di alam kehidupan ini.”
Pesan itu kemudian disampaikan kepada penduduk lainnya. Merekapun akhirnya menjadi sadar bahwa Tuhan akan meninggikan orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Begitulah Tuhan menjaga para Aulianya.

Label:

Sejarah Tapak Tuan Yang Sampai Kini Masih Di Penuhi Pengunjung


Tapaktuan, Aceh Selatan merupakan salah satu kabupaten di provinsi Aceh. Aceh selatan terletak di daerah selatan maka nya nama nya Aceh Selatan. Pembentukan Aceh Selatan baru disahkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1956 pada 4 November 1956.
Aceh Selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, iklim di daerah aceh selatan itu panas. Aceh Selatan berbatasan dengan Abdya(Aceh Barat Daya) di sebelah Barat. Dan di sebelah Timur, berbatasan langsung dengan Kota Subulussalam dan Aceh Singkil. Serta di Sebelah Utara berbatasan dengan Aceh Tenggara. Kabupaten Aceh Selatan seperti terjepit karena diapit oleh Pegunungan Bukit Barisan dan Samudra Hindia.
Luas nya wilayah Aceh Selatan sekitar 7% dari luas Provinsi Aceh. Terdiri dari 18 kecamatan mulai dari Labuhan Haji Barat sampai ke Trumon Timur. Aceh Selatan banyak didiami oleh masyarakat Minangkabau yang lebih dikenal dengan Aneuk Jamee.  Mereka telah merantau sejak abad ke 15. Kota Tapaktuan dari ketinggian, terlihat daerah Tapaktuan berbentuk teluk. Itulah Kota Tapaktuan juga disebut TALUAK.
Pada zaman dahulu, ada sebuah kisah Perperangan Tuan Tapa dengan Seekor Naga. Kota Tapak Tuan terlihat indah karena lokasinya yang dekat dengan laut, Ciri khas dari Kota Tapaktuan adalah adanya sepasang tapak kaki yang berjauhan seperti tapak orang yang melangkah berbekas pada tanahnya dan sampai sekarang merupakan salah satu objek wisata di Kota Tapaktuan.
Pada waktu itu, hiduplah seorang pemuda yang bernama Teuku Tuan. Dalam sejarah, tak diketahui darimana asal Teuku Tuan ini. Tapi diceritakan bahwa Teuku Tuan ini adalah tokoh yang berperan dalam asal-usul Kota Tapak Tuan. Teuku  Tuan itu memiliki tinggi sekitar 7 meter.
Dia hidup menyendiri di sebuah lereng gunung, setiap hari manusia bertubuh tinggi itu selalu berzikir di dalam gua. Setiap detik nya ia tidak pernah lupa menyebutkan nama Allah, dia sering mendapat firasat dan ilmu-ilmu gaib dari Allah karena sering mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Tapi Teuku Tuan itu di sebut Tuan Tapa, karna dia sering bertapa di dalam gua.
Tiba-tiba pertapa gelisah dan mendapat firasat yang kurang baik, jantungnya berdebar-debar. Suatu hari datanglah dua ekor binatang ke gua dimana Tuan Tapa berada. “Masya Allah,Siapa gerangan kalian?Binatang atau jin”ujar Tuan Tapa masih dalam  keterkejutannya “Selamat Pagi Tuan,kami adalah sepasang naga yang diusir dari sebuah negri di sebrang lautan yang disebut Negri Cina. Kami adalah Naga Jantan dan Betina”ujar Naga Jantan
“Apa kesalahan kalian hingga diusir?Apa pula tujuan dan maksud kalian datang kemari?”Tanya Tuan Tapa. “Kami diusir karena tidak mempunyai anak.Bangsa kami beranggapan bahwa kami berdua adalah pembawa sial dan tidak patut tinggal disana. Bila nanti kami mempunyai anak,baru kami diizinkan kembali ke sana. Untuk itu mohon izinkanlah kami menetap disini”ucap Naga Betina “Baiklah,aku mengizinkan kalian tinggal disini.Namun ada syarat-syarat yang harus kalian patuhi”kata Tuan Tapa
“Apa syarat-syaratnya tuan?”tanya Naga Jantan “Pertama kalian tidak boleh menggangu ketenanganku saat bertapa.Kedua,kalian tidak boleh membuat kekacauan disini.Yang terakhir kalian tidak dibenarkan menggangu tumbuh- tumbuhan dan binatang-binatang yang ada. Namun,kalian boleh makan tumbuh-tumbuhan dan bintang sebanyak yang kalian butuhkan untuk kelangsungan hidup”kata Tuan Tapa
Mendengar syarat-syarat yang diajukan oleh Tuan Tapa itu,kedua naga tersebut bermusyawarah.Beberapa saat kemudia Naga Jantan berucap”Baiklah kami menyetujui persyaratan tersebut.Namun dimanakah kami akan tinggal? “Tempat tinggal kalian tidak jauh dari sini.Jaraknya sekitar enam kali panjang tubuh kalian.Yaitu sebuah gunung di sebelah Timur “Baiklah,Terima kasih atas kemurahan hati Tuan. Kami akan berangkat sekarang”ujar kedua naga itu
Kedua naga tersebut berenang menuju ke gunung yang diceritakan Tuan Tapa.Gunung itu sekarang  berada di kawasan lembah Gunung Naga,Letaknya sekitar 6km dari timur kota Tapaktuan.Namun,Ketika sampai di gunung tersebut betapa terkejutnya kedua naga tersebut ketika Tuan Tapa terlihat sudah berdiri di hadapan mereka. “Wah,kapan Tuan Tapa kemari?Bukankah Tuan Tapa tadi berada di gua di muara sungai?Padahal kami sudah berenang dengan sekuat tenaga,tetapi tiba-tiba Tuan Tapa sudah berada disini mendahului kami.Atau Tuan Tapa ternyata ada 2?”Tanya naga Jantan dengan nada heran
“Sebenarnya aku sudah berada disini daritadi,hanya aku manusia yang tinggal disini.Maksudku datang kesini untuk memberi tahu kalian bahwa di sekitar tempat inilah kalian boleh tinggal.Kalian boleh mendaki gunung dan di gunung tersebut banyak gua yang bisa kalian pilih sebagai tempat berlindung.
Nah sekarang aku pergi dulu ketempat pertapaan”kata Tuan Tapa meninggalkan kedua Naga itu “Sungguh ajaib Tuan Tapa itu.Dia pasti bukan orang sembarangan.Ia adalah orang sakti”ucap Naga Jantan kepada naga betina “Ya,tuan tapa memiliki kelebihan ketimbang manusia biasa lainnya”ucap naga Betina “Baiklah,ayo kita naik ke gunung”ucap naga Jantan ,Kedua naga itu naik ke gunung,dan batu-batu dan tanah yang dilalui kedua naga itu berjatuhan ke pantai.Saat ini,jalan bekas kedua naga itu disebut “Gunung Jalan Naga”
Keesokan harinya,kedua naga itu berniat jalan-jalan di laut Aceh Selatan itu sekaligus mencari makan. “Bagaimana jika kita mencari makan di daerah Timur,suamiku?”tanya Naga Betina“Boleh lah”ucap naga Jantan. Kedua naga itu berenang dengan kecepatan yang menakjubkan menikmati keindahan laut itu.Hiu-hiu ikut berenang cepat menghindari kedua Naga itu. Ada sedikit hiu yang mencoba melukai tubuh kedua naga itu. Namun bagaimana mungkin kawanan hiu melukai naga?Kulit naga dipenuhi sisik-sisik besar dan tebal untuk melindungi tubuhnya Saat asyik berenang kedua naga itu melihat benda-benda kecil berwarna merah yang mengapung di permukaan air laut.
Benda itu jumlahnya puluhan ribu berserakan di laut.Kedua naga itu mendekati benda itu dan ternyata benda itu adalah buah Pinang “Banyak sekali pinang itu suamiku”ucap Naga betina “Benar,sebaiknya kita berinama Air Pinang”ucap Naga Jantan. Hingga saat ini daerah itu masih ada dan bernama Desa Air Pinang. Mereka melanjutkan perjalanan,dan kemudian menyedot sekawanan ikan-ikan yang berada di sekitar batu karang dengan mudahnya. Saat sedang asyik menghisap ikan kecil itu tiba-tiba sebuah bukit kecil terbang menuju ke tepi pantai. Melihat kejadian aneh itu kedua naga itu berhenti memangsa ikan “Apakah bukit itu betul-betul terbang,atau ini hanya mimpi?”ucap naga Jantan
“Ya,bukit itu benar-benar terbang suamiku”ucap naga Betina. Tidak lama kemudia bukit itu turun perlahan tidak jauh dari tempat kedua naga itu.Saat ini daerah itu masih ada dan menjadi pemukiman yang bernama Pemukiman Terbangan.Daerah itu termasuk dalam Kecamatan Kluet Utara,17 km dari Tapak Tuan.Kedua naga itu kemudia melanjutkan memangsa ikan-ikan kecil itu dan tidak lama kemudian mereka balik menuju gunung tempat mereka tinggal.  Suatu hari seperti hari-hari sebelumnya, kedua naga itu kembali berenang ke laut mencari makan, sekarang mereka pergi ke barat. Mereka meluncur menyusuri kawasan pinggir pantai menuju ke daerah barat. Mereka membelah ombak lautan yang bergulung-gulung.
“Hari ini ombak agak besar, suamiku! Seru Naga Betina. “Tidak mengapa, istriku. Kita perlu melihat-lihat daerah baru. Mungkin di daerah itu kita akan melihat hal-hal yang aneh seperti yang kita saksikan di daerah timur,” kata Naga Jantan. Setelah kedua naga berenang beberapa saat, mereka melihat sekelompok udang besar yang sedang berenang menuju ke muara sungai.
“Cepat, suamiku! Ayo kita kejar sekelompok udang besar itu!” seru Naga Betina.
Kedua naga itu berenang semakin cepat. Setelah dekat dengan kelompok udang, dihirupnya air laut kuat-kuat sehingga seluruh udang masuk ke dalam perut mereka.  Hingga sekarang, tempat itu disebut Desa Air Berudang dan termasuk salah satu desa di Kecamatan tapaktuan.
Ketika kedua naga itu hendak pulang kembali ke gua, dari tengah lautan, mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas.
“Oh, suara itu seperti datang dari tengah laut, Suamiku. Ayo, kita berenang ke sana!” seru Naga Betina. Begitu sampai di tengah laut, kedua naga itu sangat terkejut. Mereka melihat seorang bayi sedang terapung-apung di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Anehnya, ayunan rotan itu tidak kemasukan air. “Padahal anyaman ayunan rotan ini jarang-jarang, tapi kok tidak kemasukan air, ya? Kalau begitu, bayi ini pasti bukan bayi sembarangan,” kata Naga Betina. Yang mengherankan kedua naga tersebut, begitu mereka tiba di tempat peristirahatannya, ternyata Tuan Tapa sudah berdiri di depan pintu gua.
“Apakah kalian sudah memeriksa bayi itu baik-baik? Sudahkah kalian periksa apakah bayi itu laki-laki atau perempuan?” tanya Tuan Tapa. “Sudah, Tuan. Bayi yang kami temukan seorang bayi perempuan dan di telapak kaki kakan bayi ini terdapat tahi lalat sebesar lingkaran pusatnya,” sahut Naga Betina. “Tapi …, kami belum tahu dengan apa memberi makan bayi ini, Tuan,” kata Naga Jantan. “Itulah yang akan kusampaikan. Bayi itu bukan keturunan binanatang seperti kalian. Dia adalah anak manusia yang harus dirawat dengan baik,” kata Tuan Tapa.
“Lalu, bagaimana cara merawatnya, Tuan?” tanya Naga Betina sambil menatap bayi itu penuh kasih sayang.
“Cara merawatnya sangat mudah. Benda ini harus kalian isapkan kepada bayi itu setiap dia menangis. Benda ini adalah pengganti air susu yang kuambil di atas puncak gunung sana, ujar Tuan Tapa sambil menunjuk ke utara, tempat gunung yang biru dan menjulang tinggi.Benda itu adalah sebuah dot bayi yang sudah diisi susu. Kemudian, Tuan Tapa menjelaskan kepada kedua naga bahwa untuk menjaga keselamatan sang bayi dari gangguan binatang liar dan buas, ia memerintahkan seekor harimau untuk menjaganya setiap hari.
Harimau itulah yang akan selalu setia mengawasi bayi tersebut hingga dewasa dan menjadi seorang putri.Gadis itu sekarang telah memiliki wajah yang sangat cantik.Ia bermata jeli,hidungnya mancung,dan kedua pipinya berlseung pipit.Rambutnya panjang hitam dan legam dan sedikit ikal.Kulinya kuning langsat,mulus,dan licin tanpa tandingan.Ia diberi nama putri naga. Hari demi hari dilalui putri naga itu demikianlah keadaan sang Putri, ia terhibur selalu dengan sikap kedua naga itu dan penjagaan dari sang Harimau yang setia mengawasinya.Suatu hari,ia bertanya kepada dirinya sendiri kenapa ia berbeda dengan orang tuanya
Ia bertanya kepada harimau yang selalu menjaganya,namun harimau itu menjawab”Saya tidak tahu tuan Putri.Saya ditugaskan Tuan Tapa hanya untuk menjaga dan mengawal tuan Putri” Karena tidak puas dengan jawaban harimau,ia menanyakan kepada daun-daun kering yang berjatuhan “Saya sendiri tidak tahu kenapa harus berubah warna dari hijau menuju kuning kecokelatan,kemudian jatuh dari dahan dan jatuh ke bumi.Untuk itu coba tuan putri Tanyakan pada sang Awan”ucap daun itu. Kemudian Tuan Putri itu bertanya kepada sang Awan.
“Oh tuan Putri saya ini hanya sekumpulan dari air yang mengalir lewat berbagai sungai besar dan kecil di atas bumi.Untuk itu tanyakan saja pada bumi” Kemudian ia bertanya kepada bumi,dan medesak bumi untuk menjawab pertanyaannya “Saya ini sama dengan daun,harimau ataupun sang awan,Kami sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.Saya tidak begitu tahu asal-usul putri.Coba putri tanyakan saja kepada Tuan Tapa” Saat itu juga Putri Naga itu bergegas pergi menuju ke tempat Tuan Tapa,namun tiba-tiba Tuan Tapa itu sudah berdiri didepan sang Putri itu
“Wahai putri bungsu.Kamu adalah anak seorang  raja.Ketika kamu masih bayi,kamu hanyut di tengah lautan.Saat kamu terapung-apung di lautan kedua naga itu datang menyelamakanmu dan mengangapmu sebagai anaknya.Tidak lama lagi orang tuamu akan menjemputmu”ucap Tuan Tapa “Oh tuan Tapa yang sakti.Betulkah ayah saya seorang raja dan nama saya adalah putri bungsu?” “Benar ayahmu adalah raja kerajaan Asralanoka,didekat pulau India.Kamu diberi nama putri bungsu karena kamu paling kecil diantara tiga bersaudara”ujar Tuan Tapa
Mendengar perkataan Tuan Tapa itu sang putri Bungsu langsung pergi meninggalkan Tuan Tapa Beberapa hari kemudia datanglah orang tua asli putri tersebut dan meminta izin Tuan Tapa untuk bersedia mengambil kembali anak mereka.Tuan Tapa menyuruh agar meminta izin kepada kedua naga itu sebagai sang penyelamat putri tersebut.Orang tua kandung putri itu pun meminta izin kepada kedua naga itu.Namun kedua naga itu menolak.Mengetahui hal itu Tuan Tapa pun ikut campur tangan
“Putri itu adalah anak dari manusia dan bukan keturunan kalian wahai sang naga.Kalian tidak berhak untuk melarangnya pergi bersama orang tua kandungnya”ucap Tuan Tapa. “Tidak,kamilah yang membesarkan dan merawak putri ini.Kami berhak memilikinya”ucap naga Jantan. Kedua naga itu tetap bersikukuh menolak hal itu.Dan kedua naga itu berencana membawa putri itu bersama mereka menuju ke Negeri Cina.Namun Tuan Tapa tidak membiarkan hal itu terjadi sehingga terjadilah perkelahian sengit antara kedua makhluk sakti tersebut.
Naga Jantan menyerang Tuan Tapa dengan ekornya sehingga Tuan Tapa terbanting dalam lembah.Naga Jantan menghampiri Tuan Tapa dan terus menyerang kembali dengan ganas sambil mengerang dan membuka mulutnya lebar-lebar.Tuan Tapa berusaha menghindari setiap serangan yang dilayangkan oleh Naga Jantan.Ada serangan Naga Jantan yang mengenai kaki Tuan Tapa dan Tuan Tapa pun sempat terlempar ke laut.Melihat kakinya berdarah,Tuan Tapa pun marah dan menggunakan tongkatnya.Ketika Naga Jantan mengeluarkan serangan berikutnya,Tuan Tapa menyambutnya dengan libasan tongkatnya.
Tubuh Naga pun terpelanting  ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai.Darah dari tubuh naga yang hancur itu tumpah ke mana-mana.Hingga saat ini bekas tubuh naga yang berupa gumpalan darah dan hati itu masih dapat dilihat di pantai Desa Batu Hitam dan Batu Merah,sekitar 3km dar kota Tapaktuan dalam bentuk batu. Sekarang  Naga Betina pula menyerang Tuan Tapa, tapi serangan itu dapat dipatahkan oleh Tuan Tapa, meskipun tongkat dan topi Tuan Tapa sempat tercampak ke laut, dan hingga sekarang tongkat dan topi itu masih ada dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan.
Sementara Naga Betina yang hendak melarikan Putri Bungsu gagal. Malah hewan itu mengamuk sambil melarikan diri ke negeri Cina. Dalam pelariannya itulah Naga Betina membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hinga menjadi dua bagian, dan hingga sekarang pulau itu bernama Pulau Dua. Bahkan hewan itu mengamuk sambil memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah hingga 99 buah. Itulah hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil.
Sejak kejadian itu Tuan Tapa jatuh sakit.Dan seminggu kemudian meninggal dunia.Jasadnya dikburkan di dekat Gunung Lampu(tepatnya di Kelurahan Padang,Tapaktuan).Sang putri berhasil kembali bersama orangtuanya namun mereka menetap di Aceh Selatan.Menurut cerita merekalah asal usul masyarakat kota Tapaktuan.Dari kejadian itulah,ibu kota Aceh selatan diberi nama Tapaktuan,artinya telapak kaki Tuan Tapa.
Di Kota Tapaktuan terdapat Sejarah- zaman dulu dan objek-objek wisata, misalnya:
1.  Peperangan Tuan Tapa dan Dua Ekor Naga,                                                                                                       
2.  Mesjid Tuo
3.  Makam Tuan Tapa
4.  Pulau Dua
5.  Air Terjun Tingkat Tuju
6.  Air terjun air dingin                                                                                                                                                
7.  Gunung Terbang
8.  Gunung Putri Tidur
9.  Lubuk Simerah
10.Gua Kalam
11. Pasie Situmpuak
12. Tapak Tuan Tapa
13. Jambo Hatta
14. Batu Berlayar
15. Taman RTH, Dll
Di Kota Tapaktuan terdapat Masjid Agung Istiqamah yang berada di dekat Kantor bupati lama.  Sedangkan di tengah-tengah Kota Tapaktuan terdapat pelabuhan yang lumayan besar, di pelabuhan tersebut sering datang kapal-kapal yang mengangkut semen-semen untuk di kirim ke daerah sekitar Aceh Selatan. Demikianlah sejarah Kota Tapaktuan, Aceh Selatan .

Label: